Sabtu, 30 Januari 2016

terbenam


Terbenam


Matahari mulai meninggi di ufuk timur, angin pagi yang dingin menyusup dari lubang ventilasi kamarnya. Membuat semua orang tentunya akan selalu berada dibalik selimut hangat. Cuaca yang sangat dingin.. tidak biasanya angin sangat dingin begini. Nana bukanlah gadis yang akan selalu berada dibalik selimut yang tebal dan hangat walaupun cuaca dingin sekalipun. Baginya dingin telah merasuk kedalam dirinya, jadi ia tidak seharusnya takut oleh hal yang seperti ini. Tidak sedikitpun. Nana membuka jendela lebar-lebar, membiarkan angin pagi yang dingin masuk begitu saja memenuhi kamarnya dan sinar matahari yang mulai memenuhi ruangnya. Matahari belum sepenuh sudah berada diatas. Langit yang mulai berwarna jingga pekat kemerah-merahan mulai nampak bersamaan dengan matari yang mulai meninggi.

Nana menyaksikan panorama itu dari jendela kamarnya yang berada dilantai dua. Baginya matahari terbit dan matahari tenggelan sangatlah indah. Ia tersenyum. Gadis ini benar-benar tidak kedinginan, walau hanya memakai kaos biru muda berlengan pendek dan celana jeans diatas lutut pun ia masih tegar diterjang oleh angin pagi yang begitu dingin.
Cukup sampai disini memandangi matahari terbit. Ia bangkit dari tempatnya dan segera keluar dari kamarnya sambil membawa handuk putih yang lembut. Sebelum benar-benar memasuki kamar mandi, ia mengunjungi kamar adik perempuannya yang berhadapan dengan kamarnya. Ia membuka pintu. Ia mendesah serta tersenyum. Ia bersandar di diambang pintu melihat adik perempuannya yang sudah berumur enam belas tahun masih saja berada dibalik selimut hangatnya yang begitu nyaman. Nana terdiam, dan senyumannya mengembang kembali seolah ia memiliki rencana terhadap adiknya itu.
Ia berjalan santai menuju jendela yang berdara disana. Ia membuka tirai berenda berwarna putih sehingga sinar matahari yang sudah mulai tinggi masuk memenuhi kamar. Ia buka jendela itu lebar-lebar, dingin mulai membuat adiknya semakin berada didalam selimut itu. Dahi adiknya mengkerut oleh suasana dingin yang menjalar ditubuhnya. Nana tersenyum lebar karena ia memiliki rencana lagi. Ia mendekat perlahan-lahan kearah adiknya itu. Serentak nan gesit ia menyeret selimut itu hingga adiknya itu benar-benar keluar dari dalam selimut tebal yang sekarang ada ditangan Nana.
Benar-benar dingin yang dirasakan oleh Luna,adiknya. Nana tersenyum lebar hingga tertawa. Luna merintih kedinginan dengan cuaca yang sedingin ini, rasanya ia tak ingin masuk sekolah dulu. “ hey !! Lu..bangun !! sampai kapan kamu akan seperti anak kecil yang berusia lima tahun ?? ayo bangun !! “ ujar Nana sambil mencubit pipi Luna keras-keras hingga menjadi berwarna merah. Luna berteriak kesakitan oleh cubitan tangan kakaknya ini hingga ibu mereka masuk kedalam kamarnya.
ada apa ini ? “ tanya ibunya.
lihatlah dia ibu, sudah pukul berapa ini ? anak gadismu itu masih belum bangun juga. “ kata Nana sambil berlalu menuju kamar mandi.
jika kamu belum bersiap sampai pukul setengah tujuh.. kamu akan kutinggal. Kamu mengerti Lu ?? “ lanjut Nana. Tak ada jawaban dari Luna yang masih terbaring di kasurnya sambil memegangi pipinya yang telah menjadi merah labu.
Nana mengendarai motor besarnya yang berwarna merah, dia memang wanita namun statusnya yang menjadi seorang wanita bukanlah penghalang baginya untuk mengendarai kendaraan yang ia inginkan. Menurutnya, menaiki motor seperti itu memiliki kesan tersendiri.
ayo cepat ! dasar lambat kayak kura-kura. “ sindir Nana melihat adiknya yang keluar dari pintu rumah. Dia memang sering berkata pedas kepada adiknya, namun ia sangat menyayangi adiknya itu lebih dari apapun, jika ada yang menyakiti adiknya nanti dia tidak ragu untuk menghajar orang itu.
Nana dan teman-temannya tengah bercanda tawa di tempat parkir. Sudah kebiasaan mereka berkumpul disana setiap pagi. Tempat itu seperti tepat perkumpulan mereka setiap hari dan tak bisa diganggu gugat. Muncul seorang pemuda yang mengendarai motor yang sama dengan Nana dengan warna yang berbeda, hitam. Teman-teman wanita itu memang tidak memperdulikan laki-laki itu namun saat laki-laki itu datang memarkirkan motornya, Nana terus memperhatikannya. Laki-laki itu menyadarinya, ia memandang Nana dari motornya. Seulas senyum terpampang diwajahnya untuk Nana. Senyum yang tak pernah dilihat oleh Nana sebelumnya, berbeda dengan senyum-senyum para laki-laki di sekolah ini. Tatapan mata laki-laki itu yang tajam serta alis yang hitam, tak pernah Nana melihat laki-laki itu di sekolah ini.
siapa dia ? aku belum melihatnya disini. “ tanya Nana lirih yang masih memperhatikannya walaupun hanya punggung yang ia lihat darinya. Liirih, namun masih bisa didengar oleh Riri yang ada disebelahnya. “ entahlah, murid baru mungkin “. Penasaran mulai menggerogoti dirinya. Itulah Nana.
Tadi pagi lihat, namun jika ia berkeliling searea sekolah ia tak menemukan sosok laki-laki itu disana. Bahkan saat pulang pun ia tidak mendapatkan motornya lagi yang tadi terparkir disana. Mungkin esok hari ia bisa melihat laki-laki itu lagi. Ia melihat sekeliling halaman rumahnya dari jendela kamarnya, hal seperti ini yang selalu ia lakukan saat matahari mulai tenggelam. Melihat matahari yang mulai dilahap bumi membuat hatinya tenang melihat warna-warna yang terlukis dilangit. Ia pandangi terus langit itu hingga gelap mulai menguasai. Tidak hari ini. Ia harus merelakan hal itu. Ia melihat sosok laki-laki itu lagi disekitar rumahnya, tepatnya rumah keluarga Pak Aryo. Matanya membelalak melihat laki-laki. Laki-laki itu membawa sebuah nampan berisi nasi kuning dari kediaman keluarga Pak Aryo dan menuju rumahnya. Ini kesempatan untuknya untuk mencari tahu. Suara ketukan terdengar. “ iya. “ ujar ibu Nana.
biar Nana saja Ma yang buka ! “ teriak Nana dengan langkah cepat menuruni tangga. Nana membuka pintu perlahan, memastikan jika dia memang datang ke rumahnya. “ selamat sore “ ujar laki-laki itu. Ia menghentikan ucapannya saat melihat Nana, wanita yang ia temui tadi pagi. Ini bagainya sebuah takdir bisa bertemu dengan wanita itu.
hai “ ujar Nana.
oh, hai.. ini nasi kuning dari keluarga kami untuk rasa syukur akan kepulanganku dari Amerika. “ terang Carlie.
keluargamu ? “
oh ya, namaku Carlie. Aku putra bungsu dari Pak Aryo dan Bu Gusti. Tetanggmu. “
jadi kamu anak bungsu mereka, oh aku mengerti. Terima kasih atas nasi kuningnya. “. Carlie hanya tersenyum seperti tersenyum saat pagi tadi.
tunggu ! kamu kelas apa ? “ ujar Nana yang masih penasaran.
apa ? “
kamu kelas apa ? “
oh, aku kelas dua belas IPA d “
kalau begitu sama, aku Nana kelas dua belas IPA a, selamat datang kembali Carlie. Karena kita tetangga maka kita harus lebih dekat lagi. Samapi bertemu besok. “
Seperti ucapan Nana, tetangga haruslah lebih dekat. Mereka bertambah dekat. Sekarang Nana tidak menikmati matahari terbenam sendiri melalui jendela, namun bersama Carlie di pantai dekat rumah mereka. Rasanya berbeda saat menikmati suasana seperti ini dengan seseorang. Merasa lebih hidup.
jadi dari kecil kamu sudah berada di Amerika. Berarti bahasa inggrismu bagus dong. “ ujar wanita itu sambil menikmati matahari terbenam.
begitulah.. aku dibesarkan oleh kakek nenekku disana. “
mereka orang Amerika ? “
tidak. Kakek nenek asli Indonesia kemudian pindah kesana. “
jadi begitu. Kenapa mereka pindah ? “
soal itu belum aku tanyakan. “ ujar Carlie. Mereka tertawa bersama dalam satu dunia yang mereka temukan. Dunia yang tadinya dirasa sendiri sekarang berubah menjadi dunia yang berbeda dengan kehadirannya. Bersama dan bersama yang mereka rasakan. Hingga timbul rasa dihati yang tak dimengerti. Rasa yang begitu damai saat bersamanya, ulasan senyum yang selalu terpasang diraut wajah. 
 
Nana dan Carlie tengah duduk dipasir putih dengan ombak laut menuju pantai. Inilah yang kerap mereka lakukan disenja hari. Duduk menyaksikan matahari terlahap bumi dengan warna warna yang terlukis indah di langit. Angin sepoi-sepoi menambah romansa indah, deruan ombak dan teriakan burung bagai musik yang menemani.
sekarang aku mengerti. “ ucap Carlie menatap sang surya yang hampir tenggelam.
mengerti apa ? “ tanya Nana penasaran dengan menatap wajah laki-laki yang ada disampingnya. Carlie menoleh menatap wanita yang ada disampingnya itu. Wajah yang membuatnya damai, mata yang bulat.
apa ? “ tanya Nana semakin penasaran.
i love you. “ ucap Carlie dengan mata yang mendalam. Nana malah tertawa mendengar kalimat itu, merasa itu sebuah lelucon yang benar-benar membuatnya geli. Namun, melihat ekspresi laki-laki itu begitu tenang dan serius, ia menghentikan tawanya perlahan dan kembali menatap laki-laki itu.
benarkah ? “ tanya Nana memastikan hal itu. Carlie mendekatkan wajahnya. Nana merasakan bibirnya tertimpa sebuah bibir yang lembut. Bibir yang tak pernah ia duga akan mendarat dibibirnya dikala sang surya semakin hilang dilangit. Matanya membulat mendapatkan kecupan dari Carlie. Kecupan pertama yang ia terima dari seorang laki-laki. Ia masih menatap dengan mata membulat saat wajahnya telah menjauh. Nana memalingkan wajahnya. “ maaf. “ ujar Carlie. Nana menatap kembali laki-laki itu, memberikan sebuah senyuman hangat saat rasa dingin menyusup masu kepori-porinya.
Dari awal Nana melihat laki-laki itu di sekolah ia memang sudah jatuh hati ditambah senyuman yang ia terima untuk pertama kalinya. Laki-laki yang membuatnya penasaran tentang dirinya. Laki-laki yang membuat dunia menjadi lengkap bak kopi dengan gula yang membuat kopi itu menjadi manis.
Awalnya tak ada rasa khusus untuk Nana bagi Carlie, jika dirasakan terus menerus bersamanya. Entah mengapa rasa aneh mulai menggerogoti dirinya, rasa yang tak ppernah ia rasakan sebelumnya, rasa yang membuatnya ingin berada didekatnya, rasa yang sebenarnya ia dapati saat ia melihat seorang wanita yang menatap matahari terbenam saat senja datang di jendela atas. Angin yang membuat rambut wanita itu seakan terbang. Melihat wajahnya yang damai saat menatap matahari membuat hati pun damai melihatnya.

Dunia bertambah lengkap bagi mereka disaat sebuh cinta tumbuh diantara mereka. Dunia bak bunga dihati. Menjalin sebuah hubungan khusus diantara mereka yang diikat oleh tali cinta yang disebut kekasih. Mereka bahagia dalam satu dunia, dunia yang mereka bentuk sendiri oleh sebuah cinta yang fana, yang tak dapat dilihat namun dapat dirasakan.
Malam ini mereka akan pergi kesebuah tempat di kota, sebuah tempat yang penuh cahaya-cahaya lampu. Cinta mereka semakin kuat bagai baja yang sukar dihancurkan, sebening embun dipagi hari dan seindah matahari terbenam di barat.
mau kemana ? “ tanya Nana melihat Carlie mengendarai motor besarnya yang menjemput wanita itu.
kau akan segera tau nanti Na. “ ucap Carlie. Nana tersenyum, ia percaya kepada laki-laki itu.
Dalam dinginnya malam, sebuah kehangatan terpancar dalam diri mereka. Suhu seperti ini tak membuat mereka gundah. Dingin pun kalah akan hangatnya cinta mereka. Carlie mengendarai motornya dengan kecepatan sedang, tak ingin membuat wanita yang memeluknya khawatir dan takut saat berada diatas motornya ini. Mereka nikmati nuansa malam yang indah dengan ribuan bintang menghiasi langit dan bulatnya bulan bak tersenyum kepada mereka. Namun, indahya malam berubah menjadi kelam. Semua bak memudar dan hilang. Motor yang mereka tumpangi tergelincir, dengan cepat motor tersebut terjatuh dijalan raya yang ramai. Nana terjatuh dari motor tersebut, namun carlie tak datang berkutik, ia masih bertahan dalam pegangannya dan kepalanya terbentur palang pinggir jalan.
Masih berkunang-kunang ia rasakan, matanya terbuka jelas. Ia menghampiri Carlie dipinggir sana. “ Carlie !! “ teriak wanita itu. Ia melangkah cepat menghampiri kekasihnya itu. Darah segar mengalir dikepalanya. Ia melihat kekasinya yang tak berdaya. “ Carlie kamu.. “ ucapnya lirih merasakan darah yang terus mengalir.
tak apa Na.. aku baik-baik saja. “ ucapnya terbata.
kau tak baik Lie, ambulan akan segera datang. “ Ujar Nana terisak tangis.
mereka akan terlamat. Tak apa Na.. aku tak butuh mereka, kamu sudah disini sudah membuatku tertolong. Aku ingin mengatakan jika kamu benar-benar telah mengubah hidupku lebih indah. I love you. Aku bahagia Na. Kamu juga harus bahagia. “ ucap Carlie lirih dan terbata-bata. Waktu tak memperbolehkan laki-laki terus melihat wanita lebh lama. Ia menutup mata perlahan, melihat Nana yang ia cintai harus berlinang air mata melihatnya begini. “ jangan menangis Na.. “ ucap laki-laki itu untuk terakhir kalinya. Nana tak bisa berhenti menyuarakan tangisannya. Ia terus memanggil nama laki-laki itu, berharap ia kembali ke dunia. Ia menangis sampai terasa sesak di dada. Namun apa daya, Tuhan telah memiliki takdir untuk Carlie. Takdir yang tak bisa diubah lagi. Hanyalah keiklasan dan tangisan yang tersisa.

Kini Nana telah lulus dan kuliah di kota, memang tempat ia kuliah dengan rumahnya jauh. Namun baginya tak apa, di rumahnya ia bisa melihat matahari sesukanya. Nana duduk termenung di jendela kamarnya dengan lulut yag ia peluk. Sembari menunggu matahari dilahap bumi dan ribuan bintang menghiasi langit.
Ia masih ingat dengan malam itu, sudah satu tahun. Namun, kejadian itu serasa baru kamarin. Kini ia nikmati matahari terbenam sendiri, sendiri tenggelam dalam sebuah kenangan. Matahari yang hanya bisa membuatnya tersnyum tipis selama ini. Bagai dunia runtuh setahun yang lalu. Kadang ia meneteskan air mata lagi, kadang ia merasa ini salahnya dan berkhayal laki-laki yang ia cintai ada disampingnya.

Suatu pagi, Nana sedang berada di sebuah kantin kampus. Ia duduk sendiri menatap bukunya. Hidupnya bak hancur sendiri, tlah jatuh ke jurang yang dalam tanpa cahaya sedikitpun. Hanya berdiam diri dalam dunianya sendiri. “ maaf, apa saya boleh duduk disini. “ kata seorang laki-laki meminta izin kepada Nana yang sibuk dengan buku. Nana hanya memberikan isyarat dengan anggukan kepala tanpa melihat orang itu.
maaf, namaku Rohan. Nama kamu ? “ tanya lagi laki-laki itu yang tlah membuka buku tebalnya.
namaku Nana. “ ujar Nana tanpa melihat laki-laki lagi.
apakah kamu selalu seperti ini ? jika saat ada orang bertanya tidak memandang wajah orang itu ? “ sindir laki-laki itu.
maaf, namaku Na.. “ ucapannya terhenti dikala melihat wajah laki-laki itu. Matanya membuka dengan malut yang sedikit menganga. Tanpa kedipan tanpa suara. Apakah ini nyata ?.
Na.. ? “
Nana. “ ucap lirih wanita itu.
senang bisa berkenalan denganmu Nana. “ ujar Rohan dengan senyumannya.
Masih tercengang melihat laki-laki yang duduk bersama dirinya. Mata.. hidung.. alis.. bibir.. wajah yang sama dengannya. Suara yang mirip dengannya. Hanya senyumannya berbeda. Apakah ini nyata ? apakah aku bermimpi ? apakah aku berkhayal lagi ?.
Nana masih memandangi laki-laki itu. Ia tak bisa melepaskan wajah itu. Wajah yang ia rindukan dari dulu dan sudah setahun ini.
Carlie.. “ kata Nana lirih. Namun, suaranya bisa terdengar oleh Rohan disana.
apa ? maaf.. tadi kan aku sudah bilang namaku Rohan. Kau lupa ? “
apa ? oh maaf.. aku kira.. “
ya ? “
tak apa. “
aku harus pergi. Ingat.. namaku Rohan. OK. “ kata laki-laki itu dengan suara ringan. Nana masih memandangi laki-laki itu.

Hari ini, Nana akan pulang malam. Ia masih didalam perpustakan. Jika ia akan pulang malam, saat sore hari ia akan berada di perpustakan lantas paling atas untuk melihat matahari terbenam. Baginya, menyaksikan hal itu harus.
hai Nana. “ sapa Rohan. Nana menoleh dan menatap wajah itu lagi. Laki-laki melihat keluar jendela.
kamu suka matahari terbenam ya ? “ tebak Rohan. Nana hanya bisa mengangguk iya.
kalau begitu kita sama. “ kata Rohan.
apa ? “
hanya saja aku lebih suka melihatnya di atas gunung. “ terang Rohan.
kamu pernah lihat matahari di atas gunung ? “ lanjutnya. Nana lagi-lagi tak bisa berucap hanya isyarat kepala yang ia lakukan.
kalau begitu kamu hanya mencobanya. Mau ? besok sabtu aku akan naik gunung, mau ikut ? “
kamu mengajakku ? kita kan baru kenal kemarin. “
kenapa ? kamu takut ? “ tanya Rohan dengan senyumnya.
tidak. Hanya saja aneh. “
maaf. “ kata Rohan.
tidak perlu. Aku ikut. “ ujar Nana mantap. Ia berkata seperti ingin tahu tentang laki-laki ini, ingin bersama laki-laki yang memiliki wajah yang sama dengan laki-laki yang ia cintai. “ baiklah. Ini nomor telfonku. Besok sabtu aku tunggu jam delapan pagi. “ ujar Rohan dengan senyumnya lagi.
Mereka mendaki berdua. Rohan selalu menjaga wanita yang baru ia kenali ini. Dan Nana entah mengapa selalu percaya kepada laki-laki yang baru ia kenal kemarin bahkan laki-laki yang membuatnya teringat dan rindu kepada Carlie. Mereka menunggu matahari terbenam diatas gunung. Demi matahari terbenam, Rohan menyempatkan diri untuk naik ke gunung.
jika biasanya kamu lihat matahari terbenam di pantai, kamu melihat matahai tenggelam diperariran. Jika kamu melihatnya disini, serasa tenggelam dalam gumpalan awan. Benar ? “ terang Rohan. Nana hanya bisa mengiyakan, karena memang betul. Ini pertama kalinya ia melihat matahari terbenam diatas gunung.

Rohan dipertemukan kepada Nana bak sebuah kesempatan bagi Nana untuk bertemu Carlie. Dan itu membuat Nana bersyukur. Mereka bertambah dekat, berteman dalam satu kampus. Wajah dan suara sama serta kesukaan yang sama pula, matahari terbenam. Ia merasa bisa bangkit kembali, bak bisa memanjat keluar dari jurang yang dalam tanpa cahaya, melihat sebuah cahaya dari Rohan. Sudah sekian lama akhirnya berteman, Nana selalu mencari kesamaannya dengan Carlie. Dan kini ia sadar jika Rohan dan Carlie itu berbeda. Ia sadar keterpurukan akan masa lalu yang membuatnya terhenti. Hidup dalam masa lalu hanyalah membuag waktu. Hal itu harus hilang darinya.
Ia harus iklas oleh kepergian Carlie dan meneruskan hidup bahagia di dunia. Ia bersyukur bisa bertemu Rohan yang bisa menariknya dari keterpurukan dan menyadarkan dirinya. Tuhan, terima kasih atas apa yang telah Engkau berikan. Terima kasih telah mempertemukanku dengan laki-laki ini, laki-laki yang dapat menarikku dari masa lalu yang terus membuatku terpuruk.

selesai

merbabu take 2


Merbabu Take 2

1001 tanam pohon di Gunung Merbabu, sebuah acara yang diselenggarakan untuk umum dan gratis. Bagiku, acara seperti ini menjadi sebuah acara yang memberikanku suatu kesempatan untuk mendaki gunung itu lagi dan suatu kesempatan untuk mengenang masa yang telah sirna. Rinduku terhadap merbabu juga rinduku terhadap masa itu. masa dimana cinta nampak begitu jelas. Masa yang membuatku terasa hangat sepanjang waktu hingga rasanya diriku ini tak ingin kehilangan hal yang berharga seperti ini. Namun, kita tidak tahu dengan masa mendatang dan kenyataan yang akan terjadi nantinya. Cinta yang telah nampak dengan keagungannya harus tenggelam dengan kehancurannya. Aku selalu mengingat setiap kenangan bersamanya, namun kenangan itu juga membuatku tersiksa rasanya. Karena itu aku ingin melepaskan semua.

Tolong hapuskan rasa yang menancap ini
Cinta yang telah hancur
Meleburlah tanpa sisa
Hilanglah bagai buih dilautan
Janganlah kau kembali walau hanya sedetik

Namaku Ira Ariyanti, aku seorang siswi kelas dua sekolah menengah atas. Sekarang ini sedang liburan sekolah, dan selama liburan ini aku akan menghabiskan waktu liburan dengan jalan-jalan. Apalagi ada tanam pohon di Gunung Merbabu, ini kesempatanku untuk keluar dari rumah dan mengenang tempat. Kak Burhan, ada acara tanam pohon di Merbabu. Ayo ikut !. ajakku dalam sebuah pesan.
Kapan Dek ?.
Minggu depan.
Oke. Siapa aja yang ikut ?.
Aku, Ida, Ana, Dewi, Kak Tyo, Arif, Kak Burhan sama dua temannya Arif. Terangku.
Udah nyiapin semua barang bawaan belum ?.
Belumlah Kak.
Oke. Tak sewakan perlengkapannya. Nanti keperluan makan kamu sama temen-temen ya.
Siap laksanakan.
Kak Burhan ini seperti induk yang menanggung keperluan pokok kami. Kami akan berangkat jumat sore nanti dan pulang pada hari minggu. Aku menunggu Kak Burhan menjempuku di toko ibuku. Saat ia datang dikejauhan, aku melambai tangan sebuah isyarat aku disini. Bersiap, minta restu orang tua dan jalan. Hal yang paling membuatku jenuh adalah menunggu. Hampir dua jam kami menunggu teman-teman. Membosankan.
Setelah beberapa saat, akhirnya kami menuju rumah tanteku di Magelang. Namun harus menjemput Ida terlebih dahulu di Secang. Jauh sekali. Aku ke Magelang dengan Kak Tyo, Ana dengan Arif, Dewi Dengan Farkhan dan nanti Kak Burhan dengan Ida. Saat sampai dirumahnya Ida di Secang, Ida dan Kak Tyo langsung bagaikan bunga dan kumbang yang saling melepas rindu, sedangkan aku sendiri lagi.
Malam bercampur rintikan hujan yang tak begitu derasnya. Masih kami terjang agar sampai pada tujuan utama. Keramaian memenuhi jalan dengan suasana dingin yang merasuk lewat pori-pori. Setelah begitu lama perjalanan, kami semua sampai di kediaman tanteku, dulu saat ke gunung itu juga menginap di rumah ini. Rasanya seperti mengenang walaupun beda rumah.
Makan malam dengan mie rebus ditambah hangatnya kopi. Rasanya aneh saja dikeliling mereka ini, walaupun rumah ini penuh dengan penghuni tetapi aku bak sendiri tanpa pasangan. Bagaimana tidak, Ana dengan Arif bak sepasang kekasih walaupun mereka hanya berteman, Kak Burhan dan Dewi serta Farkhan bergantian bersama. Aku ? bersama sanak keluarga saja. Apalagi Ida sama Kak Tyo, rasanya benar-benar sesak melihat mereka bersama dalam hening ruangan yang menangkan. Entah mengapa, rasanya sesak seperti tertancap sebuah duri kecil dihati. Kecil namun perih. Aku juga bingung dengan tingkahku ini, aku marah atau cemburu ?. Aku melihat mereka bagai sepasang kekasih baru. Kumbang dan bunga. Bulan yang melengkapi bintang. Aku merasa gejolak dihati ini, rasa ini seperti es campur yang memiliki banyak rasa. Mungkin aku cemburu. Bahkan saat aku mau terlelap, masih terdengar lirihan percakapan mereka yang semakin perih bagiku. Air mengalir pelan dari kedua mata ini. Membasahi pipi yang tak indah karena asinnya air mata. Semoga Ida sahabat terbaikku itu tak mengetahuinya, hanya aku dan Allah SWT yang tahu akan keadaan yang kurasakan ini. Aku tak ingin sahabatku itu merasa sedih dengan hal ini. Bagiku, jika ia bahagia aku juga akan bahagia untuk untuknya. Tak peduli seberapa sakitnya melihat kenyataan, aku akan selalu bisa tersenyum untuk mereka.
Esoknya, kami bersiap undah menuju basecamp Gunung Merbabu vie Wekas. Jalur yang sama dengan dengan jalur yang pernah kulewati. Mandi dan serapan kami lakukan. Sarapan dengan mie rebus lagi, bak hari tanpa mie serasa tak lengkap.
besok pulangnya kesini dulu apa langsung ke rumah Ra ? “ tanya Omku.
sepertinya langsung pulang Om. “ jawabku mengira-ira.
kesini aja dulu kalau kecapekan. “
ya coba lihat besok aja Om. Jawabku lagi.
Segera kami keluarkan empat motor kami yang akan membawa kami ke basecamp.
Ra, kita gantian dong. Kamu sama Kak Burhan. “ bisik Ida ke telingaku. Aku tersenyum geli mendengar kalimat itu. ternyata begitu.
maaf Da, sepertinya tidak bisa. Aku kan bawa carier, nanti kalau aku sama Kak Burhan yang kalian dia lah. Tolakku tanpa menyakiti perasaannya, semoga begitu. Aku tahu perasaannya, apalagi setelah malam kemarin. Kami saling jujur dengan perasaan kami. Dan jujur saja, setelah saat itu aku sadar rasa sukaku pada Kak Tyo hanya sekedar angin berlalu seperti saat aku suka dengan Iwan teman sekelasku. Aku menolak permintaan temanku ini karena memang kenyataannya begitu, Kak Burhan juga bawa carier yang besar. Aku pun juga membawanya, kalau keduanya ada pada satu motor yang sama maka... entah apa yang terjadi nanti.
Matahari bersinar bagaikan bolam emas menyinari dunia. Suasana yang bak mendukung perjalanan kami menuju basecamp. Beda halnya dengan dulu, dulu harus disambut dengan rintikan air dari awan kelabu. Setiap perjalanan kuingat dan kenang selalu, serta berharap bisa meninggalkannya disana juga. Lelah hati ini terus meletakkan kenangan yang pernah kujalani didalam hati. Jadi, kupastikan setelah turun dari Merbabu nanti aku telah meninggalkan jejaknya disana.
“ aduh Ra.. motornya gak kuat ! “ ujar Kak Tyo saat menanjak jalan di dalam hutan pinus menuju basecamp. Aku turun dari motor, sepertinya aku harus pemanasan dulu dengan jalan kaki ditamnah denga carier yang kugendong dipunggungku.
ayo Kak, tak bantu dari belakang. “ kataku sambil mendorong motornya.
aku salah bawa motor ini ! “ ujarnya lagi. Aku tersentak mendengar pernyataannya. Kalimat itu.. sama halnya yang diucapkan oleh laki-laki itu. Kenapa kalimat itu muncul kembali ditempat ini dalam situasi yang sama ?.
duluan aja Ra... “ lanjutnya.
gak mau ! “
tak bawain cariernya, kamu bawa ranselku aja ! “ lanjutnya lagi. Sebenarnya aku tak tega, tapi ya baiklah. Kami bergantian membawa tas, tapi aku tetap menunggunya. Hingga diatas yang masih tanjakan, ada seorang Bapak menawarkan diri untuk membantu mengantarku dan membawa cariernya.
iya Pak, gadis ini aja ! “ ujar Kak Tyo ringan. Terpaksa aku meninggalkan Kak Tyo dibelakang. Maaf Kak. Sampainya di basecamp aku melihat teman-teman.
terima kasih Pak “ ucapku kepada Bapak tersebut. Aku menghampiri Ida tengah duduk di bangku yang terbuat dari kayu dan mengotak-atik handphone-nya itu. ia melihatku dengan heran. “ Kak Tyo mana ? “ tanyanya.
ada dibelakang, motornya gak kuat. “ jawabku.
kenapa kamu tinggal ? “ tanyanya yang terdengar sebal namun dengan wajah yang sendu dan terlihat sedih. Aku tahu apa yang Ida rasakan. Sedangkan aku hanya bisa berkata “ maaf.. “ walaupun aku juga merasakan apa yang ia rasakan jugaa. Ida memberikanku sebuah label tanam pohon yang tertuliskan namaku denga spidol warna hitam. Saat aku membalikkan badan, Kak Tyo terlihat dimataku. Serentak Ida menghampiri laki-laki itu saat ia melihatnya. Rasanya aneh. Dengan anggun Ida memberikan beberapa benda. Label tanam pohon, stiker dan pita warna kuning. Bahkan ditempat inipun mereka bak lem lengket. Sebal rasanya melihatnya. Sekarang aku cemburu apa yang Kak Tyo dapatkan dari temanku Ida, perhatian. Sepertinya sekarang aku berada pada nomor dua setelah Kak Tyo.
begitulah... kalau sedang jatuh cinta lupalah ia terhadap temannya. “ sindirku yang teringat dari sebuah postingan wowfakta. Ya sepertinya memang benar. Saat sedang jatuh cinta terhadap seseorang, maka biasanya orang tu melupakan atau mengesampingkan temannya. Aku marah dalam diam. Jika menurut Ida aku berdeba, maka aku berbeda karena dia. Aku tak suka ini, mentang-mentang sedang menyukai seseorang aku pun jadi teracuhkan. Biarlah.

Kami mengambil bibit pohon dan segera berangkat mendaki Gunung Merbabu yang terlihat gagah. Inilah waktunya aku mengingat kembali semua. Sebelum benar-benar mendaki, kami membaca doa terlebih dahulu. Tak lupa kami selalu memanjatkan doa dan puji syukur kepada-Nya atas segala limpahan yang telah Ia berika kepada kami. Langkah demi langkah kami tapakkan ke tanah yang meninggi ini. Kami menemukan tempat ang cocok untuk kami tanam, kecuali Kak Tyo dan Ida. Kugali tanah yang dekat dengan pohon yang telah roboh, berharap nantinya bibit pohon yang kutanam ini dapat menggantikan pohon yan telah roboh tersebut. Kami daki kembali menyelusuri jalan setapak ini. Tak lama, Kak Tyo dan Ida menanam pohon mereka dipinggir jalan setapak ditanjakan. Berdekatan pula, kalau menurutku nantinya bibit itu ketika telah menjadi pohon besar malah menghalangi karena berdekatan ditambah dipinggir jalan. Akarnya akan saling berebut nutrisi dalam tanah, walaupu mungkin juga akan menambah kokohnya tanah agar tidak runtuh.
Lagi-lagi temankuku Ida tidak bisa melihat megahnya Merbabu dari puncaknya. Ia dan Kak Tyo harus pulang ke rumah. Walaupun Ida tak bisa mendaki bersamaku namun pastinya ia juga senang bisa bersama dengan Kak Tyo pulang bersama. Kami semua saling berpamitan.
Kak Tyo tolong jaga Ida untukku. Ida tolong lupakan aku. “ ujarku yang sedikit menyindir untuk Ida jangan lupakan aku disaat kau sedang bahagia bersamanya.

Meski kini hatimu bukan untukku lagi
Meski kenyataan sepahit ini
Aku percaya masih ada pemanisnya
Masih ada jalan untuk keluarnya

Kak Burhan, Dewi, Ana, Farkhan, Arif dan aku melanjutkan perjalan menuju sebuah tujuan. Ribuan langkah kami tapakkan di jalan setapak meninggi ini. Disuguhi oleh pohon-pohon dan rerumputan hijau yang ada dikanan kiri kami dengan udara segar yang terhirup oleh hidung kami. Kunikmati kenangan yang pernah terjadi disini. Sebuah peristiwa yang spesial dihati ini. Peristiwa yang menusuk hati dan berdarah air mata jika aku tak kuasa menahannya.

Aku masih ingat dengan jelas. Aku masih ingat rasanya. Walaupun sekarang tempat ini sedikit tak seperti dulu. Jalan yang tak sama namun aroma yang masih sama kurasakan. Bahkan tempat dimana dulu kami mendirikan tenda. Sekarang tempat itu sedang dihuni oleh pendaki lain. Kami rehat sejanak di pos dua yang sebagai tempat untuk membangun tenda. Namun kami memiliki rencana untuk mendirikan di Watu Tulis. Tempat bebatuan yang masih berada diatas sana. Lelah pasti, namun tentu untuk mencapai sebuah tujuan membutuhkan perjuangan.

Daki dan terus mendaki. Tanpa ragu kami terus melangkah. Semakin kami menuju keatas semakin kami serasa dekat dengan tujuan. Hal yang benar-benar membuatku sakit dihati adalah hutan yang habis tebakar bulan lalu saat kekeringan atau musin kemarau sedang maraknya hingga terjadi musim yang abnormal, dimana musim kemarau lebih panjang lamanya hingga musim hujan tertunda. Pohon-pohon yang dulunya penuh dengan dedaudan hijau sekarang berubah menjadi kering ronta, tinggallah pohon tanpa hijaunya dedaunan menghias ranting-rantingnya. Gersang coklat dan rerumputan, bak seperti hutan mati.

Sampailah kami dipertigaan jalur pendakian dimana disini Watu Tulis sebagai tempat kami untuk mendirikan tenda. Tak lama, dua tenda doom telah siap dihuni dengan kemampuan kami mendirikannya. Kami habiskan waktu disini untuk mengisi perut dengan makanan dan minuman hangat yang kami bawa. Masak air terlebih dahulu tentunya. Tak hanya makan dan minum, kami juga bermain disekitar sini. Terutama Farkhan dan Arif, mereka selalu begitu. Sedangkan kami para wanita menikmati indahnya bentangan bukit-bukit dan luasnya langit yang terdapat gumpalan awan yang menggulat-gulat. Sembari menunggu kesempatan menyaksikan matahari terbenam. Aku, Dewi dan Ana duduk merapat berbenteng selimu warna cream diatas batu besar, menyaksikan detik-detik matahari yang akan ternggelam. Angin terasa dingin dan semakin kencang. Menggigil kami rasakan, namun keindahan yang tiada batas kami saksikan dengan kedua mata kami. Matahari mulai beranjak turun, tenggelam dilautan awan. Kilauannya begitu indah bagai kilauan emas. Dinginnya angin tak gentar membuat kami melihat momen-momen yang jarang kami lihat. Ini pertama kalinya, kami melihat matahari tebenam diatas gunung. Kami mencoba untuk naik ke permukaan yang lebih tinggi. Benar-benar cantik, rombongan awan seakan menjadi sebuah tingkatan dan batas. Langit yang berwarna jingga kemerahan membuat kami tak lengah mengamatinya dan mengabadikan momen seperti ini.

Hari semakin menjelang malam. Dingin bertambah bergejolak, bagai badai dilautan lepas. Kami semua berada didalam tenda untuk sebuah kehangatan. Namun, kehangatan tak berpihak untukku dan Kak Burhan. Kami harus bertahan dalam dinginnya malam bagai badai didalam tenda berdua. Aku tahu ini tak pantas dan berbeda dengan rencana. Selalu berbeda. Dewi, Ana, Farkhan dan Arif berada didalam tenda yang sama. tinggallah aku dan Kak Burhan yang melawan dinginnya angin malam. Aku selalu melihat jam tanganku, berharap waktu lebih cepat menunjukkan pukul dua untuk mendaki menuju puncak.
Naik munggah kepuncak pucuk
Tinggi duwur sekali banget
Kiri kanan kulihat saja
Banyak kenangannya...

Kubuka kedua mata. Kulirik jam yang melingkar ditangan kiriku. Pukul dua pagi. Akhirnya jarum jamnya menunjukkan angka dua. Serentak aku bangun dan membangunkan yang lain. Kulihat langit begitu cerah, bulan bersinar terlalu terang sehingga langit begitu nampak biru dengan bintang-bintang yang menghiasinya. Alangkah indahnya, namun dinginnya malam masih menggelunggu kami. Kupaksa mereka untuk bangun dan segera berangkat menuju puncak.
ayo bangun !! “
Mereka masih ragu untuk membuka mata.
katanya mau lihat sunrise, ayo bangun ! gak pake lama ayo berangkat ! “ lanjutku.
dingin Ra.. bentar lagi. “ keluh Ana yang masih berada dibalik selimut.
lebih kedinginan aku sama Kak Burhan di tenda sana. Ayo ! “ ujarku dengan menyita sleepingbag mereka yang dijadikan selimut. Akhirnya mereka bangun. Kami segera bersiap dengan perlengkapan yang dibutuhkan saat perjalanan.
permisi mbak, ada obat magh gak ? temen saya ada yang sakit magh. “ tanya seorang pendaki laki-laki kepadaku.
waduhh Kak gak ada ik, maaf. “ jawabku sesal.
masih ada makanan gak ? roti atau apa gitu. “
oh kalau itu kami masih punya. Bentar. “ jawabku ringan. Aku tidak keberatan untuk berbagi makanan dengan oarang yang lebih membutuhkan walaupunsebenarnya bekal kami tinggal sedikit.
ini Kak. “
terima kasih mbak. “ ucap laki-laki yang umurnya lebih tua dariku jika kulihat fisiknya.
Ini dia, perjalanan pagi yang dingin. Sialnya, perutku mulas karena kebanyakan makan. Aku harus buang air besar. Dua kali aku harus buang air besar. Astaga... ini pertama kalinya aku seperti ini. Tidak. Rasanya begitu dingin walaupun aku sudah memakai jaket dan sarung tangan. Rasa dingin ini seakan menusuk dagingku. Ini berbeda dengan dahulu, dulu aku masih bisa menahan dinginnya gunung bersamanya tapi sekarang rasanya aku tak kuat menanjak keatas. Teman-teman selalu memberiku semangat untuk tetap kuat. Namun rasanya, dorongan mereka tak sekuat dorongan Kak Yaki, laki-laki yang dapat membuatku jatuh hati. Sepanjang jalan kulangkahkan perlahan. Kutahan rasa sakit yang menusuk hati akan kenangan dan dinginnya malam. Aku harus kuat. Aku harus bisa. Air mata mengalir lancar membahasi pipiku. Kenangan yang kurindukan. Kenangan yang membuatku sakit. Kuingat setiap jalan yang kulewati bersamanya. Aku ingat. Perih sekali. Sesak rasanya. Kutak bisa menghentikan tangisan diam ini. Tangisan yang menemaniku disetiap jalan dipandu oleh Kak Burhan dan yang lainnya sudah jalan keatas duluan.

Puncak Syarif. Puncak pertama yang kami tuju. Begitu ramai disini dan juga begitu dingin. Matahari belum nampak namun sudah begitu terang. Kududuk diatasa tanah dipinggir puncak. Menikmati luasnya awan yang akan menyambut matahari, begitu juga kami yang sedang menantikan sang surya meninggi.
Ra.. ayo foto ! “ ajak Ana kepadaku.
ayo kalau berani lepas jaket ! “ tantang Arif kepada kami. Tentu aku berani, aku suka tantangan. Walaupun belum tentu semua tantangan terbilang sukses olehku. Beginilah kami, tak memakai jaket dan sarung tangan. Rasa dingin semakin menusuk raga. Kami semua menyambut sang surya yang mulai nampak di ufuk timur. Matahari meninggi, bak hari baru telah dimulai. Kami tak menyia-nyiakan momen seperti ini. Kami mengambil foto sebanyak-banyaknya sebelum batrai handphone habis. Puas disini, kami menuju puncak kedua. Namun, saat dipertigaan bawah. “ aku ke tenda aja ! “ ujar Dewi. Diikuti oleh Ana, Arif dan Kak Burhan. Jadi yang ke puncak berikutnya hanya aku dan Farkhan saja dengan dua ransel sebagai bekal kami. Berdua lagi bersama laki-laki diperjalanan. Jadi terbiasa juga jadi mengenang kembali. Kami berdua dengan santai menyelusuri jalan setapak menuju puncak Ketheng Songo. Saling bercerita dalam perjalanan, saling menolong dalam perjalanan juga. Tebing yang harus dilewati dan ditanjak takkan berhasil tanpa bantuan laki-laki ini. Walaupun aku sering meminta break, ia tetap sabar menanti hingga kudapat jalan kembali. Sampainya dipuncak kedua ini, aku senang dan mengingat kembali. Walau sudah berubah dan ramai, aku masih bisa melihat bayangan masa lalu itu. aku tersenyum rindu. Kulihat dan nikmati serta kuabadikan Gunung Merapi dari disini bersama Farkhan yang dikelilingi oleh gumpalan awan putih. Cukup melihat untuk puncak ketiga dari Ketheng Songo. Farkhan mengajakku turun ke tenda. Sebelum menuruni tebing, kami makan mie terlebih dahulu. Satu bungkus mie untuk berdua sambil menikmati alangkah indahkan pemandangan yang telah diciptakan oleh Allah SWT. Bercerita bersama dalam keheningan.
cie.. menikmati pemandangan bersama.. “ serentah seorang pendaki cantik yang sedang lewat menuruni tanjakan.
kita Cuma temanan kok Kak.. “ ucapku santai.
semua berawal dari teman lho.. “ ujarnya lagi dengan senyuman. Aku hanya bisa tersenyum malu, karena aku tak punya jawaban untuk menanggapinya. Ya sudahlah. Kami melanjutkan menuju tenda. Lagi-lagi kami tertahan oleh keadaan alam yang indah dipandang setalh kami telah menuruni tebing. Kami duduk santai dan bercerita tentang pengalaman kami masing-masing dipinggir jalan setapak. Menyaksikan megahnya tiga Gunung yang berjejeran. Sindoro, Sumbing dan Prau.
Ra.. ayo ke tenda. “ ajak Farkhan.
semoga aja sudah ada makanan yang menunggu kita disana. “ ujarku dengan penuh harap.
semoga. “ tambahnya.
Kami kembali diperjalanan. Menuruni jalan yang kami naiki tadi. Naik kukembali mengenang, turun juga kukembali mengenang.
Khan, kayaknya kita bisa ketempat itu jika kita lewat puncak ketiga. Apalagi sepertinya, tempat itu belum dijajah oleh pendaki lain. “ ujarku sambil menunjuk bukit panjang sana.
iya juga. Tempat yang masih asli belum diinjak oleh kaki. “
kalau ada yang mendahului pasti nanti banayk yang kesana terus rusak deh sabananya. “
iyuo betul “ ujar Fakhan terhadap pernyataanku. Selama perjalanan menuju tenda, kami seringt terpeleset. Kami selalu bilang mulai lapar jika salah satu dari kami terpeleset. Sampainya di tenda, semua habis tidur dan rehat bahkan sudah makan. Tak ada makanan sisa, kami harus membuat sendiri. Kompor dan gas kami siapkan begitu pula dua mie rebus dan 1 mie goyeng kami campurkan nanti. Beruntungnya ada agar-agar yang baru sedikit dicicipi dan buruknya persediaan air hampir habis. Kalau soal agar-agar tentu kami habiskan karena tidak ada yang memakannya lagi sedangkan soal air nanti dipos 2 kami bisa mengisinya kembali.

Semua telah ditata. Bersiap untuk turun gunung. Para laki-laki membawa carier dan para wanita membawa ransel dan sampah kami selama disini. Sampainya dipos dua, kami mengisi empat botol air minum dan melanjutkan perjalanan.
break dulu Kak. “ ujar Ana duduk diakar pohon besar.
Na.. kenapa tempat ini ? “ ucapku tak percaya dengan ini.
lha emang kenapa Ra ? “
dulu juga disini tempat rehat kami saat mau turun. “ terangku.
baper lagi dah.. “ kata Dewi.
Ya selalu begini. Aku memakai sandal coklatku, rasanya tidak enak kupakai. Akhirnya kulepas dan kutitipkan kepada Ana. Sekarang kakiku tak beralas dan bersentuhan dengan bumi langsung. Ini lebih nyaman. Diikuti oleh Farkhan yang melepas sandalnya juga. Karena kami tak memakai alas, kami melangkah cepat menuruni tanjakan. Sangat cepat hingga teman-teman lainnya berada dibelakang. Terus menuruni tanjakan, berhenti jika bertemu pendaki lain dan menyapa mereka jika kami lewat. Kadang pula kami ditanya kenapa tidak pakai alas kaki. Kami berdua terus menuruni hingga kami terhenti di pos satu yang terdapat sumber air. Segar rasanya meminum air asli dari sumber secar langsung tanpa dimasak terlebih dahulu. Sambil menunggu teman-teman, kami berdua rehat di pos satu ini.
Di basecamp kami sudah bersiap menuju rumah. Kaki sudah dibersihkan dan sampah juga sudah berada pada tempatnya. Rasa lega ada pada hati dan jiwaku. Kusambut dunia baru dari sini. Aku kembali kemari membawa kenangan lama dan kupulang membawa kenangan baru. Dari sini pula, aku akan berubah menjadi sosok wanita yang lebih baik lagi. Semua yang telah kau berikan kepadaku di gunung ini, aku tanggalkan juga semua di gunung ini. Terima kasih Kak Yaki atas waktumu yang pernah kau berikan kepadaku. Beban sakit yang kubawa selama ini telah kubuang dimana semua berawal. Aku tak menyesal mengenalmu, hal yang kusesali adalah kenapa aku harus memilih mencintaimu dan meninggalkan sosok laki-laki yang sebenarnya kucintai dari dulu. Hanya itu. Setelah ini aku akan tebarkan senyum seperti dulu walaupun aku telah berubah. Kubuang masa yang pernah menyakitkan hati dan terpancar sebuah harapan akan masa depan. Harapan yang akan membawaku menjadi sosok wanita yang baik. Aku percaya semua akan indah pada waktunya nanti.

Hati, jiwa dan raga
Bersatu dalam satu dunia
Harapan dan kenyataan
Tergantung usaha yang kita lakukan
Masa lalu dan masa depan
Masa yang selalu berkaitan
Masa lalu sebagai pelajaran
Masa depan sebagai harapan

selesai

merbabu


Merbabu

Rencana telah disepakati. Senang rasanya akan mendaki bersama dengan laki-laki yang membutku nyaman. Membanyangkan saja sudah membuatku bahagia. Aku, Ida, Kak Yaki, Kak Anto, Kak Irfan, Kak Iwan dan Kak Fandi. Kami akan mendaki Gunung Merbabu. Semoga hari-hari baik mendukung kami saat mendaki. Rencana aku dijemput Om ke rumahnya Tante di Magelang. Ya itu alasan dasarnya setelah itu menuju Merbabu bersama mereka.

Aku menunggu teman-teman dari pagi di rumah Tanteku di Magelang. Lama sekali mereka datengnya. Sampai aku tertidur pulas hingga tengah hari berlangsung.
Kak kok belom nyampe ?. Tanyaku lewat pesan singkat yang kukirimkan kepada Kak Yaki.
Ambil carier di sekolah. Ketinggalan. Balasnya
Lha udah sampai mana tadi ?
Sumowono. Balasnya singkat. Apa ! Sumowono ? itukan sudah jauh banget dari sekolah menengah atas kami. Aku Ira Ariyanti, aku siswi kelas sepuluh jurusan ilmu sosial. Aku teman sekelas dengan Ida Savitri. Aku suka seni dan alam, termasuk gunung.
Laki-laki yang spesial dihatiku adalah Kak Adi dan Kak Yaki. Aku mengenal mereka dari organisasi Pramuka. Aku mengenal Kak Adi karena temanku dan aku mengenal Kak Yaki saat acara Pramuka di Peromasan Gunung Ungaran. Saat itu..

Acara Napak tilas Pramuka di Peromasan Gunung Ungaran. Sore hari tak ada kegiatan yang pasti, aku tertarik dengan apa yang dilakukan sekumpulan orang yang berada di dipan kayu yang terlapisi oleh karpet hijau. Orang orang itu mengelilingi bedak dan kartu yang telah tercecer. aku ikut !. ucapku rindu dengan permainan ini.
nanti setelah ini Dek. ujar Kak Iwan kepadaku. Setelah selesai, aku diajari dalam kalimat mereka dan dibagilah kartu. Ini keberuntungan bagiku, aku menang dalam permainan kartu pertama ini. Yang kalah akan dicoret dengan bedak putih yang telah disiapkan. Permainan terus berlangsung, menag dan menang dan sialnya aku kalah kali ini dan permainan berakhir. Aku serasa ingin bermain kembali, kulihat di sudu sana juga sedang bermain kartu. Aku duduk disana dan menawarkan diri untuk ikut. Saat kartu terbagi dihadapanku, aku merasa ada yang memperhatikanku. Kutengok kearah laki-laki yang sedang memandangiku itu. ia memandangku dengansenyumnya, kami saling melempar senyuman. Seakan waktu terhenti disekitar kami, begitu lama dan hening terasa. Hingga ucapanku menyadarkan laki-laki itu, Kak Yaki. Dari permainan kartu inilah kami kenal dan semakin dekat bahkan ia dapat membuatku nyaman dalam semalam menuju puncak, ia selalu menemaniku hingga aku menapakkan kaki di puncak Ungaran.

Saat aku setelah Sholat Ashar, mereka tiba. Hujan menyentuh tubuh mereka. Kasian. Aku menuntun mereka ke rumah Tanteku yang letaknya tak jauh dari Mushola. Kubuatkan teh hangat untuk menghangatkan tubuh mereka sembari menunggu hujan reda. Setelah hujan reda, kami bersiap untuk menuju Gunung Merbabu via Wekas. Aku bersama Kak Yaki sebagai orang yang spesial bagiku dan menurutku aku juga orang yang spesial baginya. Jalan menuju basecamp begitu tenang, hingga gerimis menerjang kami. Sepertinya ini tak baik apalagi hari sudah sore. Namun kami tetap kokoh menuju basecamp Merbabu.

Sampai disana, kami menata ulang perlengkapan. Aku dan Ida membeli lima botol air besar dan makanan ringan. Sepertinya kami tak ada persiapan, aku bahkan tadinya hanya membawa senter dan jaket saja. Sore hari ini, kami mulai menanjak Gunung yang perkasa ini. Gunung yang kuidam-idamkan selama ini, akhirnya dapat kudaki. Hujan baru reda tadi, pantas saja jika jalan setapak ini basah. Aroma segar pohon-pohon terhirup bebas. Mata selalu melihat hijaunya dedaunan. Hari semakin gelap, sepi menyelimuti kami. Namun, karena kami bersama dengan penuh canda tawa jadinya sepi itu sirna oleh kebersamaan kami ini. Break ! break ! break ! kata yang sering kami ucapka. Kapan sampainya kalau begini ?. memang tak mudah untuk mencapai tujuan yang harus digapai. Malam sepertinya kurang untuk menyulitkan kami, gerimis deraspun mengguyur kami. Kami harus cepat-cepat sampa ke pos dua untuk mendirikan tenda. Setelah lama berjalan menerjang gerimis yang tak kunjung reda, kami sampai di pos dua. Kami memilih tempat untuk mendirikan tenda doom. Di atas bukit di bawah pohon itu cocok menurut Kak Yaki. Tak pakai lama, para laki-laki itu membangun tenda doom, kecuali Kak Iwan, ia beristirahat di matras yang telah ia siapkan.

Satu tenda doom untuk tujuh orang. Benar-benar tak ada persiapan. Rencana jika tidak hujan, aku dan Ida tidur di tenda dan lainnya diluar. Tetapi tak sesuai rencana. Didalam tenda ini yang saling berdesakkan, kami bermain kartu. Seperti biasanya, yang kalah akan dicoret. Aku dan Ida memiliki coreatan bedak paling bayak. Hari semakin larut, kami harus segera tidur karena pukul satu pagi nanti harus sudah bersiap menuju puncak. Berdesakkan namun mencoba untuk bisa menyesuaikan dengan luasnya tenda doom ini. Hangat menjalar ketubuhku walau cuaca dingin seperi ini. Pelukan yang membuatku hangat dan nyaman tak membuatku bisa terlelap. Kehangatan yang diberkan oleh Kak Yaki untukku terus melekat dalam diriku hingga pukul satu pagi.
Kak udah pukul satu ! “ bisikku kepada Kak Yaki.
ayo bangun ! “ Kak Yaki membangunkan semua yang masih terlelap oleh hangatnya desakkan ini. Lampu dinyalakan, meliahat wajah-wajah mereka baru bangun benar-benar membuatku geli. Kami bersiap membawa bekal menuju puncak. Ranselnya Ida yang kupakai, kukeluarkan seluruh isi dalam ranselnya dan kuisi dengan minum dan makana untuk perjalanan nanti.
Jaket basah dan sepatu juga basah. Terpaksa, aku tak memakai keduanya. Hanya celana trening, kaos dan sandal milik Kak Yaki. Aku membawa tas kecil yang isisnya handycam milk Kak Yaki. Semua pendaki juga mulai berangkat menuju puncak, kami juga tak mau ketinggalan.
Wan ! ayo bangun ! “ ajak Irfan paksa.
gak Fan. Aku disini aja. “ ujarnya lemah dalam tenda dibalik selimut.
oke ! jaga tenda ya Wan ! “ Kata Kak Yaki.
masak kesini hanya pindah tidu doang Wan ! “ canda Kak Anto.
Tanpa Kak Iwan, kami pun berangkat menuju puncak. Dingin pasti, namun semangat berkobar dalam jika hingga aku terbenteng dari dinginnya suasana apalagi adanya Kak Yaki disisiku membuatku terasa lebih hangat. Jalan menanjak terus menerus. Hal yang paling bodoh adalah diriku, bodohnya karena kakiku kotor aku membasuhkan kakiku ke air. Kakiku serasa kaku sampai kedalam. Bodoh. Sampainya di Watu Tulis, Ida tak kuat menahan dinginynya suasana yang ada di Gunung ini. Tubuhnya kaku dan menggigil. Sedangkan Kak Yaki malah ingin terus melaju bak kereta api tanpa henti, bagaimana mungkin ia sendiri mendaki. “ Kak aku ikut ! “ teriakku.
Kak tolong jaga Ida ya.. “ lanjutku kepada Kak Irfan, Kak Anto dan Kak Fandi. Mereka menemani Ida disana, sedangkan aku dan Kak Yaki terus menanjak bersama. Rasanya aneh saat bersamanya, walau aku tak memakai jaket, sarung tangan bahkan sepatu pun aku serasa hangat jika berada disampingnya. Walaupun aku hampir tak kuat melangkah, ia selalu bisa membuat terus melangkah oleh kata-katanya kepadaku. Semangatnya dan kehangatannya telah merasuk dalam jiwaku ini. Aku terus melaju tanpa henti hingga aku meminta untuk berhenti. Aku terduduk disana kedinginan, hingga fajar menyingsing.
Kak break dulu... “
yaudah break sini. “
Dek ayo bangun ! hampir deket. “ ucapnya setelah fajar nampak birunya. Aku tertidur ternyata, mungkin karena aku tadi terjaga semalaman. Kami berdua melanjutkan perjalan walaupu aku tak melihat matahari terbit dari atas puncak.
Kak Yaki ! “ teriak Kak Irfan dari bawah.
ayo cepat ! “ teriak ganti Kak Yaki.
tunggu ! “ teriakkan terdengar lagi dari Kak Anto sekarang.
Jadi kami berempat yang akhirnya menuju puncak. Ida sudah berada di tenda, tertidur dalam kehangatan.sedangkan Kak Fandi menjaga dua orang yang telah sakit didalam tenda bak seorang ayah menjaga kedua anaknya. Setiap perjalana kami abadikan dalam bentuk foto melalui handphone-nya Kak Irfan, mereka indahnya pemandangan melalui handycam oleh Kak Anto. Dari sini bisa kami lihat pemancar di atas bukit Watu Tulis, Gunung Andong, Gunung Telomoyo, Gunung Sindoro, Gunung Sumbing, Gunung Prau dan Gunung Ungaran. Begitu hijau disetiap gunung dan bukit, begitu biru langit menyambut sang surya yang mulai meninggi. Serasa senang dihati hingga nyanyian terdengar, nynyian yang aneh tapi lucu.
Naik munggah,
Ke puncak pucuk,
Tinggi duwur sekali banget !

Kami berempat sampa di Puncak Syarif. Hening dan sepi di puncak sini. Indahnya awan yang membentuk batasan, megahnya Gunung Merap dari sini. Foto dan foto, itulah kami. Setelah puas disini kami pindah menuju Puncak Kentheng Songo. Kami harus berjalan lagi di jalan setapak dengan hamparan sabana dan bukit-bukit indah. Harus melewati tebing dan menanjak lagi. Untuk sampai ke puncak ini haruslah menaiki tebing, beruntung telah disediaka tali jiwa sebagai pegangan menuju ke atas. Di Puncak Kentheng Songo cukup ramai dengan pendaki. Kami tentu selalu mengabadikan momen ini dan berehat sejenak disini. Kulihat Kak Yaki yang lelah hingga tertidur disini dengan kepala yang ditundukkan.

Matahari semakin meninggi dan waktunya kami turun dari sini. Aku, Kak Yaki, Kak Anto dan Kak Irfan segera menuju tenda. Harus menuruni tebing itu lagi, entah kenapa perut jadi sakit. Aku kira karena waktunya datang bulan namun sepetinya karena lapar, memang dari kemarin malam aku hanya makan roti saja. Akhirnya setelah tak kuat menahan sakit, Kak Yaki menawarkan diri untuk menggendhongku menuju tenda. Aku salut dengan laki-laki ini. Ia kuat membawaku dipunggungnya disaat menuruni jalan tajakan ini. Namun kadang ia iseng menjatuhkanku. Aku takut dan semakin memperkuat peganganku terhadapnya.
Kak turunkan aku ! “ pintaku yang merasa sudah baikkan. Ia menurunkanku, aku berjalan lagi dengan kedua kakiku ini. Sesampainya di Watu Tulis, aku iseng membuang sepatunya. Saat ia mulai marah aku mengambilnya dan mengebalikannya.
Dek mana sepatuku ! “
entahlah.. “
Dek ! dek cepetan bawa sini.. “
Namun sepertinya ia benar-benar sudah marah walaupun sepatunya sudah kukembalikan. Ia jalan terlebih dahulu tanpa melihat kebelakang, au merasa bersalah. Ia mendiamkanku, aku juga terdiam menyesalinya. Mungkin ia sudah lelah dan ingin segera ke tenda, tapi gara-gara aku tadi mungkin.... . Aku berjalan sendiri menuruni tanjakan hingga pos dua di tenda kami. Kami masih terdiam, berbicara pun masih canggung.
Makan dan minum minuman hangat. Akhirnya perut ini terisi juga. Semoga Kak Yaki cepat baikkan sama aku dan memaafkanku.

tadi to aku menemukan kacamata warna ungu ditenda, ada juga yang bergambar bunga-bunga pula. “ ucap Kak irfan keras. Ida mengerutkan dahi.
eh Kak !! “ teriak Ida yang kemudian menuju tenda. Aku bingung dengan tindakkannya.
hih Kak !!! kok bisa disini !! gak sopan ik !! “ kesalnya membara.
ya mana aku tahu Dek, lha dari tadi sudah disitu. “ jawab Kak Irfan.
apa Fan ? “ tanya Kak Anto penasaran.
Fan siapa ?!! “ tanya Kak Fandi sebal.
Irfan.. bukan Fandi. “ kata Kak Anto tegas dengan pembicaraannya yang lucu. Kak Irfan membisiki laki-laki itu. kemudian Kak Anto juga ikut tertawa. Aku ingat, tadi pagi saat masih gelap aku mengeluarkan seisi ranselnya Ida bahkan termasuk pakaian xxxxxx. Oh tidak.
maaf Da.. tadi aku yang mengeluarkan semua buat jadi tempat bekal perjalanan. “ sesalku kepadanya.
ahhh Ira... aku jadi malu.. “ kata Ida yang masih menta dalam tenda. Keseruan kami saat disini begitu santai dan penuh tawa. Dari menemukai bendera pandu dunia yang diambil dari pohon bahkan sampai terbakarnya sebagian rambut poninya Ida.

Perjalanan turun gunung pun berlangsung. Semua sudah beres tanpa sisa, ransel begitu ringan. Kami membawa sejuta kenangan indah bersama. Beruntung persediaan air masih ada. “ break ! “ ucap Kak Anto. Tempat dibawah pohon yang rindang. Kak Yaki dan Kak Anto terduduk diakar pohon besar. Kak Iwan duduk di akar pohon seberang, aku dan Ida berdiri berjauhan. Kak Irfan mengeluarkan handycam dan mulai merekam perjalanan pulang.
ayo berangakat ! “ ujar Kak Yaki, ia sepertinya masih marah kepadaku. Tak apalah, nanti juga kami akan baikkan lagi. Jalana turun membuat kami tak bisa seimmbang. Kak Anto terpeleset dan jatuh, aku tak bisa mengendalikan langkah dan terus melangkah cepat dan menabrak Kak Iwan yang tentunya kami terjatuh bersama.
aku gak lihat ! ulangi ! “ canda Kak Yaki dan Kak Irfan yang masih merekam. Perjalanan masih panjang, lagi-lagi kami harus behadapan dengan hujan. Hujan semakin deras, kulepas sandal Kak Yaki dan sekarang tanpa alas kaki aku menuruni tanjakan. Karena hujan sehingga tanah licin dan kadang aku terpeleset karenanya.
Dek Ira, pakai jas hujan ini ! “ perintahnya Kak Yaki.
lha Kakak pakai apa ? “
gak usah. Pakai kamu saja “ ujarnya lagi kepadaku. Aku semakin mengerti dengan tingkahnya terhadapku. Jika aku boleh katakan, sepertinya itu adalah suatu kasih sayang. Ada hal konyol yang terjadi dikala hujan. Kak Fandi seakan tak memakai celana karena celananya dinaikkan hingga jaket panjangnya yang sampai paha menutupinya. Ida sudah turun duluhan mendahului kami, Kak Iwan yang memiliki jas hujan malah diberika kepada Kak Irfan yang terlanjur basah kuyub tetapi Kak Irfan hanya membawa dan menyeret jas hujan berwarna biru bahkan menghayutkan sandalnya agar sampai kebawah. Aku terlindungi oleh jas hujan milik Kak Yaki dan aku melihat Kak Yaki yang kehujanan bahkan tangannya yang mulai memerah karena kedinganan. “ maaf.. “ ucapku lirih untuknya.
Aku sekarang yakin akan perasaanku ini. Aku mencintai laki-laki yang bernama Yaki Wira Nugroho ini. Laki-laki yang bisa membuatku nyaman dalam semalam. Laki-laki yang selalu membuatku hangat walau cuaca sedingin es. Aku bersyukur bisa mengenal dan mencintai dirinya. Aku sadar ia menyayaiku walau tak sepatah kata terucap darinya kali ini. Gunung Merbabu menjadi saksi bisu diantara cinta kami yang menyatu. Gunung Merbabu akan menjadi Gunung yang istemewa bagiku sampai kapanpun. Bibit cinta yang kami bawa, kami tanam diatas sini dan tumbuh besar dalam hati yang sama dan dalam kehangatan yang sama. Perjalanan kami masih panjang untuk masa depan yang indah. Perjalanan yang harus kami tempuh untuk dapat mewujudkan harapan kami ynag kami genggam bersama. Ya Allah... jangan Engkau pisahkan kami berdua yang telah menyatu ini. Ikatlah kami dalam satu ikatan yang tak terpisahkan. Karena aku mencintainya..

Rasa dingin tak dapat menyentuh kulitku
Kehangatan selalu ada pada pihakku
Bersamanya aku bisa bertahan
Tanpanya aku tiada guna

Selesai

kopi dan hujan


Kopi dan Hujan


Musim hujan tahun ini, seperti musim hujan tahun-tahun yang lalu. Dingin, deras bercampur kesegaran saat ribuan tetesan air menimpa kulit. Musim hujan tiba dari bulan oktober sapai bulan maret. Hujan mengguyur bumi pertiwi tanah Indonesia. Indonesia memiliki dua musim, musim kemarau dan musim penghujan. Indonesia hanya memiliki dua musim itu saja, karena negara itu berada tepat di garis kathulistiwa.

Musim hujan adalah musim yang diidam-idamkan gadis berambut hitam itu, musim yang ia rindukan sedari dulu. Ia bertahan dan menunggu di musim kemarau untuk merasakan dan menyambut musim hujan tiba. Bagi banyak orang, hujan adalah suatu hal yang menghambat aktivitas mereka. Namun bagi gadis itu, hujan dapat menenangkan pikirannya, meluluhkan hatinya. Naya menyukai kopi yang tersaji di cangkir kala hujan mengguyur bumi. Ia selalu menikmati kopi hangat disebuah cafe yang berada di seberang jalan dari sekolahnya. Dengan berjalan kaki sejenak, sampailah ia pada bangunan itu. Cafe yang berdinding batu bata berwarna merah dengan kaca besar didepan bangunan, bahkan pintunya pun berbahan kaca tebal, sehingga seisi cafe dapat terlihat dari luar.
Naya memakai jaket yang berbahan kain tebal berwarna coklat muda berkancing hitam serta terpasang jelas saku yang berada di sebelah kanan kiri jaket. Ia mengambil payung yang masih terlipat di dalam tasnya. Sore ini hujan. Setelah pembelajaran selesai, gadis itu segera menuju Art Cafe yang berada di seberang jalan. Ia bisa mendengar rintikan hujan yang berjatuhan diatas payung jingganya. Ia bisa merasakan dinginnya angin yang melewatinya. Walaupun sepatu gadis itu basah terkena air dari atas, ia tak peduli karena yang basah pun hanya bagian luar saja.

Gadis itu memasuki Art Cafe, dari namanya saja sudah terbayangkan. Cafe yang didalamnya memuat berbagai seni, dari seni lukis, seni musik, seni ukir, bahkan terkadang pada hari tertentu cafe itu mempertujukan sebuah tarian asli Indonesia. Setiap orang yang memasui cafe ini akan disambut oleh alunan musik yang dapat menghayutkan hati dan disambut oleh lukisan-lukisan yang terpasang disetiap dinding, terdapat pula ukiran dari kayu disetiap sudut dengan beragam bentuk seperti patung manusia, hewan dan masih banyak lagi. Cafe ini berlantai dua, dekorasi yang sama pula yang berbau kesenian.
Naya sering datang kemari, ia selalu duduk dipinggir jendela besar di lantai pertama, baginya jika ia duduk disana, ia dapat melihat suasana yang ada di luar sana dengan berbagai transportasi darat berlalu lalang di jalan raya. Ia bisa bersantai sejanak di tempat ini sebelum berjalan pulang.
mau memesan apa ? “ kata pelayan cafe itu yang tela berada dekat meja Naya.
chocollate coffe aja “ kata Naya dengan menyungging senyum. Tak lama, pesanan gadis itu tiba. Kopi hangat ala Art Cafe saat hujan mengguyur di sore ini.
Naya sangat menikmati suasana seperti ini, begitu dapat dengan suhu udara yang dingin menyentuh kulit. Namun, selama beberapa hari ini ia selalu melihat seorang laki-laki bertubuh tinggi yang selalu berkunjung di Art Cafe dan selalu duduk sendiri dengan membawa kamera SLR. Naya merasa selalu diawasi, dintai oleh laki-laki itu. Perasaannya semakin cemas. Pikirannya campur aduk seperti adonan roti. Hujan masih berlangsung, untungnya ia membawa payung. Segera gadis itu menuju kasir untuk membayar kopinya. Merasa janggal akan hari ini, ia tak mau berlama-lama dalam keadaan tak mengenakkan ini.
Naya berhenti di tepi jalan raya dibawah payung jingga yang ia miliki, menunggu kakak laki-lakinya menjemput dirinya. Dingin masih terasa membalut tubuhnya. Tak lama, sebuah mobil berwarna silver berhenti didepannya. “ ayo cepat masuk ! “ perintah kakaknya yang membuka jendela mobil.
maaf lama, sudah menunggu berapa lama ? “ tanya kakaknya.
baru sebentar tadi kok. Bukankah memang biasanya Kakak selalu terlambat menjemputku “
kau benar “ ujar laki-laki yang sedang menguasai gerakya mobil.
Perasaan Naya semakin tenang setelah menjauh dari laki-laki yang berada di cafe sana. Lega dan damai akhirnya menggerogoti dirinya.
kamu masih ingat Antonio ? “ tanya laki-laki itu.
tentu sajalah, ia adalah sahabat terbaikku “ ujar Naya semangat.
aku dengar ia pulang ke Indonesia seminggu yang lalu, namun ia tidak pulang ke rumah. Kata ibunya, ia berada di apartemen dekat sekolahmu. “ terang Rio tentang laki-laki bernama Antonio itu.
benarkah ? tapi aku tak melihatnya. “
bodoh. Memangnya kamu pernah melihatnya sebelumnya, fotopun tidak punya. Kalian itu umur berapa sekarang ? “
ah... benar. Aku belum pernah melihat wajahnya sekarang. “
###

Sunyi hening dibawah bulan benderang. Rasa dingin masih terasa kuat membalut tubuh. Naya memandang langit yang telah berbintang berhias bulatnya bulan. Ia masih teringat ucapan kakaknya, Antonio sudah pulang. Dari sore tadi, ia masih memikirkan tentang sahabatnya itu. Antonio Brown, sahabat Naya sejak kecil. Ia harus pindah bersama ibu yang berkewargaan Inggris di keluarga Brown,Inggris. Saat itu, Antonio dan Naya berumur 8 tahun. Walaupun sudah sangat lama mereka tanpa bertemu sampai berumur 17 tahun, namun rasa rindu masih menggerogoti mereka.
Naya membuka tasnya yang berada diatas kursi kamarnya, ia merogoh seisi tasnya. Tak ada. Ia mengeluarkan seisi tasnya. Tetap tak ada. Ia menggeledah seisi kamarnya. Tak ada. “ dimana bukuku ? “. Naya mengingat-ingat dimana ia meletakkan buku diary miliknya. Mungkinkah tertinggal di cafe kemarin ?, pikirnya singkat. Jika pun iya, semoga tidak dibaca oleh orang yang ada disana. Apalagi ini sudah larut malam, tak mungkin ia kembali kesana bukan.
###

Sehabis pulang dari sekolahnya, Naya datang ke Art Cafe. Mencari tahu apakah buku miliknya memang disini. Buku diary berwarna biru dengan gambar bunga anggrek merah.
permisi,apakah kemarin ada buku yang tertinggal disini ? “ tanya Naya kepada penjaga kasir.
maaf, sepertinya tidak ada. “ ujar wanita cantik penjaga kasir dengan model baju khas Art Cafe. Kekecewaan menjalar kembali dihati gadis itu. Kemana lagi ia bisa menemukan bukunya. Hilang ?. belum lagi masalah buku diary, laki-laki yang seakan mengawasi gerak gerik Naya ternyata berada di cafe ini lagi. Naya bersikap seolah tenang akan laki-laki yang tak ia kenal di cafe ini.
Naya bergegas keluar dari cafe ini, menghindari laki-laki misterius tadi dan harus berfikir kembali dimana bukunya itu. Namun seolah ada yang mengikuti dirinya, ahhh.. benar. Pemuda itu menghampiri dirinya. Mata gadis itu membelalak melihat laki-laki itu semakin mendekat. Yang lebih menakutkan lagi, terlihat laki-laki itu merogoh isi jas biru. Mungkinkah belati ? pistol ?. langkah gadis itu semakin cepat, tolong !. “ Naya ! “ teriak laki-laki itu. Naya tetap berlari menghindar. Namun, seakan tangannya telah tertangkap oleh laki-laki itu. “ lepaskan !! tolong ! tolong ! “ teriak Naya ketakutan. Gadis ini benar-benar setengah mati ketakutan.
ini aku !! “ ujar laki-laki itu.
siapa !! lepaskan !! “ teriak Naya
Antonio Brown ! “ ujar laki-laki itu. Mendengar nama itu, Naya diam tak bergerak. Matanya masih membulat. Ia berfikir sejenak. Nama itu ?.
bohong.. “ ujar Naya lirih.
tidak, aku Antonio. Sungguh. “ terang laki-laki itu mencoba meyakinkan gadis itu.
buktikan, buktikan jika kamu Antonio. “ tantang Naya untuk memastikan apakah laki-laki ini benar-benar Antonio, sahabatnya.
aku Antonio Brown, nama ayahku Joko yang berasal dari Indonesia dan ibuku Susan Brown dari Inggris. Aku baru pulang satu minggu yang lalu. Aku pindah ke Inggris saat berumur delapan tahun. Kita berdua suka es krim saat kecil dan kita sering bermain bersama di pekarangan rumahmu. Dan.. “ terangan laki-laki itu terhenti saat gadis itu meminta laki-laki itu berhenti bicara. Hujan tiba-tiba mengguyur tanah tempat itu. Mereka terjebak dalam hujan sekarang, bahkan Naya pun tidak membawa payung hari itu.
hujan “ ujar Naya lirih.
apartemenku dekat sini, ayo kesana saja dulu. “ kata Antonio. Entah mengapa Naya percaya dengan semua ucapan laki-laki itu. Ia percaya bahwa dia teman kecilnya, Antonio.
###

Apartemen yang berada di sebelah sekolah dengan cat warna hijau yang memiliki tiga lantai dan tiga bangunan. Jalan setapak yang berbahan dari batu-batu kerikil yang disetiap pinggir jalannya terdapat taman kecil tersedia disana. Gedung C, lantai dua, nomor 34. Mereka berdua memasuki apartemen yang luasnya cukup besar. Satu kamar dan satu kamar mandi dengan ruang tamu dan dapur yang menjadi satu.
kenapa kamu baru beritahu aku ? padahal kamu selalu ada cafe itu “ kata Naya yang telah duduk di sofa merah marun yang membentu leter U. Antonio terdiam dengan senyuman yang tersungging diwajahnya.
maaf Nay, hanya saja butu waktu untuk memberi tahu kepadamu. Jujur saja, aku ingin melihatmu tanpa harus kau tahu. “ ujarnya.
maksudmu ? “
aku merindukanmu. “ ujar Antonio dengan wajah teduhnya. Ucapan laki-laki itu membuat ternggorokan Naya cercengat, ia memalingkan wajah. Menyembunyikan kerinduan yang sama halnya dengan laki-laki yang berdiri di dapur. Antonio menyodorkan kopi yang tersaji di cangkir biru dengan garis merah kepada gadis yang masih duduk memandangi seluruh ruangan. Mereka berbincang-bincang tentang kehidupan mereka selama ini, hingga hujan reda bahkan hingga malam.
sudah malam... “ kata Naya.
akan kuantarkan kamu pulang. “ ujar Antonio dengan senang hati mengantarkan gadis itu sampai ke rumahnya. Naya menyarankan kepada laki-laki itu juga mengunjungi rumah orang tuanya, memangnya ada orang tuanya yang tega anaknya jauh dari rumah dan bahkan belum semapt pulang ke rumahnya sendiri. “ tenang saja, tentu aku akan kesana. “ ujar Antonio.
###

Sekarang, mereka selalu bersama, membayar waktu yang telah lama mereka tidak lalui bersama. Mereka selalu bercerita tentang diri mereka. Seperti dulu, selalu bersama sejak kecil. Mereka masih sama, menyukai es krim dan hujan. Kedekatan mereka semakin dekat layaknya kakak adik bahkan seperti halnya sepasang kekasih baru. Namun hanya mereka yang tahu apa hubungan mereka, hanyalah sahabat erat sejak kecil sampai tua nanti. Tak lebih dan tak kurang.
Bak gulali lengket yang sukar dipisahkan. Itulah mereka saat ini, bahkan dari dulu dan sampai tua nanti. Tuhan, jangan Engkau pisahkan kami lagi dalam jarak yang jauh. Kami ingin selalu seperti ini sampai kami membentuk sebuah keluarga dan sampai akhir menutup mata kami nanti.
Selesai..